search

Kamis, 30 September 2010

penerapan manajemen dalam kehidupan mahasiswa


. Pendahuluan
Al-Qur’an bagi seorang muslim tidak saja berfungsi sebagai sumber hukum dan pedoman moral, melainkan juga sumber inspirasi yang menawarkan konsep-konsep alternatif tentang berbagai aspek kehidupan. Al-Qur’an memiliki dua kekuatan sekaligus, sentripugal dan sentripetal, ia mampu menarik perhatian para cendekiawan untuk menggali ‘tambang’ pengetahuan yang tak pernah habis. Pada saat yang sama al-Qur’an juga memancar energi ke luar untuk memberikan corak atas konsep pengetahuan, budaya, sosial yang mampu bersaing dengan konsep produk manusia.
Rasulullah saw pada abad ke 6 Masehi telah mampu membuktikan hegemoni al-Qur’an atas peradaban besar masa itu seperti peradaban Romawi, Persi dan sebagainya. Mulai dari konsep politik, pola interaksi dengan berbagai strata sosial, sampai masalah ekonomi terinspirasi oleh pesan moral al-Qur’an. Aisyah pernah ditanya tentang deskripsi akhlaq Rasulullah dalam hadis riwayat Ahmad.

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَخْبِرِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (رواه أحمد في مسنده)
Saad bin Hisyam pernah bertanya pada Aisyah tentang bagaimana gambaran dari akhlaq Rasulullah, ia menjawab bahwa semua akhlaq Rasulullah bersumber dari al-Qur’an

Salah satu aspek kehidupan yang juga bisa didekati dengan konsep al-Qur’an adalah manajemen. Secara definisi dapat dijelaskan bahwa manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran (Tim Diknas, 1994:623). Setiap muslim pasti memimpikan sebuah kehidupan yang qurani, sebuah pola kehidupan yang sarat akan nilai-nilai al-Qur’an, gema al-Qur’an setiap saat memancar ke seluruh lorong rumah dan relung hati semua anggota keluarga. Untuk merealisasikan idealisme tersebut diperlukan sebuah manajemen khusus, yaitu manajemen al-Qur’an itu sendiri. Manajemen al-Qur’an meliputi bagaimana sebuah kehidupan qurani direncanakan (planning), diorganisir (organizing) dan kemudian dikendalikan (controlling) agar terus eksis.

B. Manajemen al-Qur’an dalam kehidupan kampus
Merupakan prasarat bagi seorang muslim yang ingin menggapai derajat tertinggi di sisi Allah bahwa ia harus memiliki pengetahuan memadai apapun disiplin ilmunya (QS. Al-Mujadilah:11). Al-Qur’an ansich belum menjadi sebuah disiplin ilmu, akan tetapi masih berupa bahan mentah yang perlu dikelola lebih lanjut. Jadi, semata-mata menguasai al-Qur’an (apalagi baru tahap membaca dan menghafal) saja, belumlah dapat dianggap sebagai orang yang berilmu (‘u:tul ‘ilm) atau cendekiawan (ulul albab) selama belum ditopang oleh disiplin ilmu agama seperti tafsir, hadis, ushul fiqh, ulum al-Qur’an dan lain-lain. Akan lebih ideal lagi, bila diperkaya dengan disiplin ilmu umum seperti matematika, astronomi, sosiologi, linguistik dan seterusnya.
Proses belajar yang panjang haruslah bermuara pada ‘khasyatullah’ (QS. Al-Fathir:28), yaitu hadirnya sebuah kesadaran bahwa setinggi apapun ilmu seseorang tetap saja belum seberapa dibanding ilmu Allah, akibatnya muncul rasa tunduk dan takut pada sang pencipta, Allah Azza wa Jalla.
Tidak semua orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi sukses, sebaliknya tidak sedikit orang yang hanya berpendidikan dasar atau menengah saja bisa sukses, baik sukses dalam keimanan dan kehidupan maupun sukses dalam kemulyaan. Kuncinya adalah ketaqwaan (QS. Al-Baqarah:252) dan motivasi (QS. Al-Kahfi:101). Tidak sulit bagi Allah untuk memasang atau mencabut ilmu pada diri seseorang (QS. Ali Imran:26), demikian juga sangatlah mudah bagi-Nya untuk memberi kemanfaatan atau menghilangkan keberkahan dari ilmu yang sudah diberikan pada seseorang. Namun, belum cukup ketaqwaan dan motivasi untuk menggapai prestasi ‘al-ilm an-nafi’ tanpa kerja keras (QS. Al-Ankabut:69) dalam proses transfer ilmu, baik dari sumber belajar maupun dosen.
Membaca merupakan proses vital dalam implementasi tranfer ilmu. Wahyu yang pertama kali turun (QS Al-Alaq:1) mengisyaratkan bahwa membaca menjadi entry point untuk memahami pesan-pesan agama. Di sini membaca tidak dibatasi pada lembaran kertas, melainkan juga membaca fenomena-fenomena alam dan seluruh jagat raya (QS. Fussilat:52). Pengalaman leadership dalam organisasi intra maupun ekstra kampus ikut menjadi bagian penting dari proses membaca yang akan memperkaya khazanah keilmuan kita.
Perencanaan yang harus dilakukan mahasiswa dalam hal ini yaitu menghimpun informasi dan motivasi sebanyak-banyaknya kemudian melakukan internalisasi niat dan membangun komitmen sesuai yang dicita-citakan. Selanjutnya komitmen tersebut diorganisir dengan menyesuaikan kondisi kemampuan yang dimiliki serta kondisi lingkungan sekitar. Setelah tahapan tersebut terlampaui, harus ada pengawalan sampai target terpenuhi. Tidak mustahil, akan muncul rintangan silih berganti dari internal maupun eksternal. Di sinilah letak ujian terberat dari sebuah proses menuju tangga sukses, untuk itu dibutuhkan usaha ‘all out’ untuk menaklukkannya.

C. Manajemen al-Qur’an dalam bermasyarakat
Dalam bermasyarakat, modal utama yang harus dimiliki adalah terjalinnya kerjasama positif dengan segala unsur masyarakat (QS. Al-Maidah:2). Jargon ‘berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah’ sangatlah baik diterapkan dalam hidup di tengah-tengah masyarakat. Sikap eksklusif (menjaga jarak) dengan masyarakat lantaran memiliki keunggulan tertentu atau kesalehan dalam keberagamaan justru akan merugikan diri kita sendiri, sebab beberapa peran yang seharusnya dimainkan menjadi tidak berfungsi maksimal. Peran-peran tersebut adalah (1) peran dakwah (QS. Ali Imran:104), (2) peran sosial (QS. At-Taubat:122), dan (3) peran kekhalifahan (QS. Hud:61).
Peran dakwah dituntut oleh agama untuk menjamin kesinambungan implementasi agama di masa-masa mendatang sekaligus menjaga kualitas moral umat agar tetap dalam koridor akhlaqul karimah dan ridla Allah. Mustahil dakwah dapat dilaksanakan dalam kondisi antara kita dan masyarakat bersikap nafsi-nafsi (QS. Ali Imran:103). Pesan dakwah lewat suara mungkin saja dapat dilakukan dengan mengetuk telinga pendengar, tapi untuk menembus hati amatlah sulit.
Perencanaan yang harus dilakukan dalam konteks ini yaitu pandai-pandailah kita bergaul dan bersosialisasi dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan masyarakat. Selanjutnya mengorganisir misi dan visi kita sebagai insan qurani, untuk berkiprah maksimal dalam mensyiarkan pesan-pesan al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat. Tahapan berikutnya adalah memonitor secara kontinyu kelemahan-kelemahan dakwah kita untuk kemudian diperbaiki. Ingatlah kesuksesan kita untuk membentuk komunitas qurani akan sangat tergantung komitmen dan konsistensi kita disertai ketulusan semata karena Allah.

D. Manajemen al-Qur’an dalam dunia kerja
Sejarah telah membuktikan bahwa para nabi ternyata bekerja keras (QS. Al-Furqan:20) untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka tidak memanfaatkan dakwahnya untuk meraih keuntungan duniawi (QS. Yasin:21), sehingga tercipta kemandirian dan ketangguhan secara ekonomi. Bahkan, sebaliknya tidak sedikit para sahabat Nabi mengorbankan hartanya demi kelancaran dakwahnya.
Kita sebagai insan qurani, seyogyanya tidak menggantungkan hidup (rizqi) dari belas kasihan orang atau memanfaatkan keahlian kita membaca/menghafal al-Qur’an (QS. Ali Imran:199). Al-Qur’an tidak diturunkan ke dunia ini dalam konteks untuk dijadikan komoditas ekonomi, tapi untuk memberikan petunjuk dan pedoman hidup demi kebahagiaan dunia sampai akherat (QS. Al-Isra’:9). Justru Al-Qur’an banyak memotivasi kita untuk kerja keras dan menafkahkan rizki kita untuk umat yang lemah (QS. Al-Baqarah:3).
Perencanaan yang harus dilakukan dalam konteks ini yaitu mengenali potensi dan keterampilan yang kita miliki. Setelah itu bertekad untuk tidak akan menggantungkan hidup pada orang lain atau mengandalkan penghasilan dari al-Qur’an yang kita baca. Kita organisir wilayah kerja kita, kapan kerja untuk kerja, kapan kerja untuk amal, dan kapan kerja untuk dakwah. Kebiasaan insan qurani berdisiplin dalam belajar keras perlu ditindak lanjuti dengan kerja keras. Dalam bekerja lupakan seluruh atribut qurani agar tidak gamang dalam mengais rizqi dari jalan apapun selama Allah ridla.

E. Manajemen al-Qur’an dalam keluarga
Keluarga merupakan miniatur sebuah bangsa, baik tidaknya suatu bangsa tergantung kualitas individu dan keluarga. Allah memberi warning agar orang tua tidak meninggalkan keturunan yang lemah fisik maupun psikis (QS. An-Nisa’:9). Keberadaan anggota keluarga memang satu sisi menjadi ‘bunga hidup’, di sisi lain bisa juga menjadi musuh terberat bagi keluarga (QS. At-Taghabun:14). Untuk itulah diperlukan pendidikan agama dan al-Qur’an yang akan menyejukan keluarga (QS. Ar-Ra’d:28).
Upaya menciptakan keluarga sakinah dimulai dari pemilihan pasangan hidup, Al-Qur’an menganjurkan pasangan yang sepadan (QS. An-Nur:26). Dalam konteks ini yang terpenting adalah sepadan dari segi kualitas agamanya. Bila keluarga yang kehendaki itu keluarga yang qurani, maka semua unsur keluarga harus dikondisikan untuk target tersebut sejak semula.
Perencanaan yang harus muncul dalam konteks ini yaitu kebulatan tekad untuk hidup dibawah lindungan al-Qur’an. Berbagai aktifitas kita bersama keluarga disetting dengan skenario qurani. Mulai terbit fajar sampai malam hari harus disempatkan memperdengarkan al-Qur’an pada keluarga dan berinteraksi dengan mereka juga menerapkan etika qurani.


ARGUMENTASI DAN PEMBAHASAN
“Health promotion is the science and art of helping people change their lifestyle to move toward a state of optimal health. Optimal health is defined as a balance of physical, emotional, social, spiritual, and intellectual health. Lifestyle change can be facilitated through a combination of efforts to enhance awareness, change behavior and create environments that support good health practices. Of the three, supportive environments will probably have the greatest impact in producing lasting change”. (American Journal of Health Promotion, 1989,3,3,5)
Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik beberapa kata kunci yang dapat membantu pemahaman mengenai peran manajemen dalam program promosi kesehatan, khususnya promosi kesehatan ibu dan anak. Pertama, promosi kesehatan adalah ilmu dan seni. Kedua, promosi kesehatan bertujuan membantu orang mengubah gaya hidup. Ketiga, promosi kesehatan bertujuan membawa orang menuju status kesehatan yang optimal.
Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui upaya untuk menggugah kesadaran, mengubah perilaku serta menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku sehat. Upaya fasilitasi tersebut dapat berlangsung secara efektif jika didukung oleh metode komunikasi yang tepat. Komunikasi merupakan kegiatan pokok dalam program promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan.
Proses komunikasi, adalah proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan berupa isi ajaran yang ada dalam kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non-verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu disebut encoding. Sedangkan proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut decoding. Decoding merupakan proses pengolahan informasi yang meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Ibu dan masyarakat sekelilingnya sebagai sasaran program kesehatan ibu dan anak (KIA), sekaligus merupakan penerima pesan dalam proses komunikasi yang kita lakukan.
Dengan melakukan melakukan komunikasi yang efektif diharapkan terjadi kesadaran pada diri penerima pesan yang untuk selanjutnya menjadi awal dari perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat terjadi jika kita melakukan komunikasi secara tepat, dan untuk melakukannya kita harus memahami bagaimana timbulnya perilaku tersebut serta kemungkinannya untuk berubah.
Ketepatan dalam melakukan komunikasi juga ditentukan oleh kepiawaian promotor kesehatan untuk menerapkan teori-teori perubahan perilaku. Pengetahuan tentang teori perubahan perilaku akan memandu seorang promotor kesehatan memilih dan menentukan apa yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakannya serta siapa sasarannya. Selain itu teori perubahan perilaku akan membantu promotor kesehatan untuk menentukan perilaku baru yang akan diajarkan serta perilaku sasaran yang akan diitervensi terlebih dahulu.
Rumitnya pelaksanaan kegiatan ini akan terbantu jika kita menggunakan dukungan manajemen yang baik. Secara umum pelaksanaan program harus dikelola sedemikian rupa, sehingga langkah-langkah pelaksanaannya lebih teratur dan lebih mudah diukur keberhasilannya. Tahapan-tahapan manajemen yang lazimnya digunakan adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi (POACE).
Dalam program promosi kesehatan ibu dan anak (KIA) penerapan fungsi-fungsi manajemen dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pencapaian tujuan atau perilaku baru yang diharapkan. Pada tahap perencanaan ditentukan perilaku apa yang diinginkan oleh promotor, bagaimana melakukannya, dimana akan dilaksanakan serta berapa besar biaya yang diperlukan. Pada tahap pengorganisasian ditentukan siapa-siapa yang akan terlibat dan sejauh mana keterlibatan mereka. Pada tahap pelaksanaan dan pengawasan, promotor kesehatan akan memberikan penilaian sementara terhadap proses yang berjalan dan segera memperbaikinya jika dianggap ada kesalahan yang dapat mengganggu optimalisasi pencapaian tujuan. Sedangkan pada tahap evaluasi promotor kesehatan serta pihak lain yang terlibat secara langsung, melakukan pengukuran seberapa besar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai.
HAMBATAN-HAMBATAN
Masalah yang paling lazim terjadi ketika dilakukan penerapan manajemen dalam pengembangan program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah kemampuan dari para promotor yang terlibat untuk menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten ke dalam keseluruhan proses. Selain itu kemampuan sasaran yang rendah dalam menangkap pesan yang dikirimkan pada proses komunikasi akan menghambat pelaksanaan program dari tahap yang satu ke tahap selanjutnya.
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Untuk mengantisipasi dua hambatan utama tersebut dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
  • Galang komitmen diantara pelaksana program untuk konsisten menerapkan fungsi-fungsi manajemen namun tetap tetap menjaga fleksibilitasnya.
  • Pilih metode dan saluran komunikasi yang tepat dan dianggap dapat menjangkau sasaran secara efektif.
Bahan Bacaan :
1.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.
2.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.
3.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.
4.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005
5.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003
BAB I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia tercatat bahwa untuk mendapatkan kebenaran, baik kebenaran yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya, manusia senantiasa mempergunakan seluruh keberadaanya secara utuh dan menyeluruh. Dengan cara seperti itu telah memungkinkan dihasilkannya berbagai macam metode sebagai suatu sarana atau instrumen bagi manusia dalam mendapatkan kebenaran. Dari sekian metode yang ada untuk memperoleh kebenaran, metode ilmiah merupakan salah satu metode yang besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Metode ilmiah ini pada prinsipnya adalah hasil pengembangan dari penerapan dua paham berpikir filosofis, yakni paham rasionalisme dan empirisme (Suriasumantri, 1996; Beerling et al., 1997).
Namun demikian apabila dengan cermat kita memperhatikan perjalanan sejarah perkembangan kedua aliran itu, rasionalisme dan empirisme, keduanya tidak terlepas dari berbagai kritik. Hal ini menunjukkan bahwa baik rasionalisme maupun empirisme mengandung titik-titik lemah yang dapat kita anggap sebagai keterbatasan dari kedua aliran filsafat tersebut.
b. Penetapan Masalah, Tujuan dan Hipotesis
Alasan pengkajian terhadap empirisme adalah karena kedudukannya yang sangat penting dalam metode ilmiah. Dalam studi-studi ilmiah yang dilakukan dengan teknik eksperimentasi, penggunaan metode empiris sangatlah menonjol dan memberi pengaruh yang kuat. Hasil penarikan kesimpulan sebagai salah satu bentuk kebenaran yang diperoleh dengan kajian ilmiah, sangat besar ditentukan oleh pemikiran empiris. Tidak jarang penarikan kesimpulan yang diambil dari suatu penelitian ilmiah mempunyai nilai kebenaran yang rendah, oleh karena hanya kesalahan dalam penggunaan metode empirisnya. Sebab itu kritik atau telaahan terhadap kelemahan dalam metode empiris dimaksudkan untuk membangun kewaspadaan bagi para ilmuwan dalam menggunakan metode ilmiah.
Atas dasar itulah makalah ini mencoba mengungkapkan dan menganalisis fakta-fakta apa saja dalam empirisme yang menjadi titik lemah atau keterbatasan metode tersebut dan mengapa hal-hal itu dapat terjadi. Selain itu, makalah ini memberikan beberapa solusi alternatif guna mencoba menjawab persoalan tersebut, sehingga paling tidak keterbatasan empirisme dapat diminimalisasi.
Dari permasalahan segaimana telah diajukan, hipotesis yang dirumuskan adalah bahwa keterbatasan empirisme dalam metode ilmiah dapat dikendalikan sehingga tidak menyebabkan terjadinya penarikan kesimpulan ilmiah yang salah secara signifikan. Hipotesis lain yang bisa juga dikemukakan adalah bahwa keterbatasan empirisme sesungguhnya merupakan suatu peluang untuk menimbulkan keraguan terhadap kesimpulan ilmiah sehingga memungkinkan dikembangkannya lagi suatu pengkajian ulang terhadap kebenaran ilmiah tersebut.
BAB II. PENGERTIAN DAN TINJAUAN HISTORIS
Sebagai suatu paham atau aliran dalam filsafat, empirisme menekankan pengalaman sebagai sumber utama untuk mendapatkan pengetahuan. Istilah empirisme berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Dalam penafsiran lain dikatakan bahwa kata empeiria itu terbentuk dari en – di dalam; dan peira – suatu percobaan. Jadi artinya suatu cara menemukan pengetahuan berdasarkan pengamatan dan percobaan.
Pemikiran empirisme lahir sebagai suatu sanggahan terhadap aliran filsafat rasionalisme yang mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan. Untuk lebih memahami filsafat empirisme kita perlu terlebih dahulu melihat dua ciri pendekatan empirisme, yaitu: pendekatan makna dan pendekatan pengetahuan. Pendekatan makna menekankan pada pengalaman; sedangkan, pendekatan pengetahuan menekankan pada kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan (observasi), atau yang diberi istilah dengan kebenaran a posteriori.
Para tokoh filsafat mengembangkan pemikiran empiris karena mereka tidak puas dengan cara mendapatkan pengetahuan sebagaimana dipercayai oleh aliran rasionalisme. Orang-orang rasionalisme dalam mencari kebenaran sangat menjunjung tinggi penalaran atau yang disebut dengan cara berpikir deduksi, yaitu pembuktian dengan menggunakan logika. Sebaliknya, bagi John Locke, berpikir deduksi relatif lebih rendah kedudukannya apabila dibandingkan dengan pengalaman indera dalam pengembangan pengetahuan. Locke sangat menentang pendapat mazhab rasionalisme yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang sudah dibawa sejak lahir. Menurut Locke, pikiran manusia ketika lahir hanyalah berupa suatu lembaran bersih (tabula rasa), yang padanya pengetahuan dapat ditulis melalui pengalaman-pengalaman inderawi (McCleary, 1998). Lebih lanjut ia berpendapat bahwa semua fenomena dari pikiran kita yang disebut ide berasal dari pengamatan atau refleksi. Inilah tesis dasar dari empirisme. Dengan tesis inilah, Locke mempergunakannya sebagai titik tolak dalam ia menjelaskan perkembangan pikiran manusia (Brower dan Heryadi, 1986).
Selain John Locke, Bacon juga berkesimpulan bahwa logika hanyalah membawa kerugian daripada keuntungan. Sebab bagi Bacon, penalaran hanya berupa putusan-putusan yang terdiri dari kata-kata yang menyatakan pengertian tertentu. Sehingga bilamana pengertian itu kurang jelas maka hanyalah dihasilkan suatu abstraksi yang tidak mungkin bagi kita untuk membangun pengetahuan di atasnya (Verhaak dan Imam, 1997).
Bacon beranggapan bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulan umum. Pemikiran Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikir induksi.
BAB III. KEDUDUKAN EMPIRISME DALAM METODE ILMIAH
Sistematika dalam metode ilmiah sesungguhnya merupakan manifestasi dari alur berpikir yang dipergunakan untuk menganalisis suatu permasalahan. Alur berpikir dalam metode ilmiah memberi pedoman kepada para ilmuwan dalam memecahkan persoalan menurut integritas berpikir deduksi dan induksi.
Pola berpikir yang dikembangkan dalam metode ilmiah memperlihatkan dengan jelas peran penting empirisme yang menakankan pembuatan kesimpulan secara induksi. Empirisme berfungsi untuk menguji hasil penalaran terhadap permasalahan yang dibangun atas dasar deduksi. Penalaran yang dilakukan dengan mengkaji teori-teori dalam memahami permasalahan fakta hanya bisa sampai pada perumusan hipotesis. Penalaran hanya memberi jawaban sementara, bukan kesimpulan akhir.
Oleh sebab itu agar sampai kepada kesimpulan akhir, empirisme diperlukan untuk menguji berbagai kemungkinan jawaban dalam hipotesis. Untuk menguji jawaban-jawaban yang ada, ilmuwan harus masuk ke alam nyata. Fakta-fakta atau bukti-bukti yang relevan dengan obyek permasalahan harus dikumpulkan, disusun dan dianalisis. Di sinilah tugas empirisme.
Namun demikian peranan empirisme bukan saja hanya berkaitan dengan tugas pencarian bukti-bukti atau yang lebih dikenal dengan pengumpulan data. Tetapi, sejak awal pengkajian masalah sebenarnya kerja empirisme sudah terlibat. Pengalaman-pengalaman ilmuwan yang berkaitan dengan obyek permasalahan sudah diperlukan dalam memberi analisis terhadap fakta permasalahan. Mekanisme ini merupakan sisi lain dari empirisme dalam metode ilmiah. Jadi empirisme tidak saja hanya diperlukan dalam pengumpulan data, tetapi sudah dimulai sejak awal perumusan masalah (Suriasumantri, 1996).
BAB IV. FAKTOR PEMBATAS EMPIRISME
Keterbatasan empirisme dalam perannya menyumbangkan pengetahuan melalui metode ilmiah dianalisis dari kritik-kritik yang diberikan terhadapnya. Kritik terhadap empirisme yang diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) dalam Suriasumantri (1994) terdiri atas tiga bagian. Pertama, pengalaman yang merupakan dasar utama empirisme seringkali tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif. Pengalaman ternyata bukan semata-mata sebagai tangkapan pancaindera saja. Sebab seringkali pengalaman itu muncul yang disertai dengan penilaian. Dengan kajian yang mendalam dan kritis diperoleh bahwa konsep pengalaman merupakan pengertian yang tidak tegas untuk dijadikan sebagai dasar dalam membangun suatu teori pengetahuan yang sistematis. Disamping itu pula, tidak jarang ditemukan bahwa hubungan berbagai fakta tidak seperti apa yang diduga sebelumnya.
Kedua, dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat bergantung pada persepsi pancaindera. Pegangan empirisme yang demikian menimbulkan bentuk kelemahan lain. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan. Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap dapat saja keliru dan menyesatkan.
Ketiga, di dalam empirisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan dalam empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan harus diuji terlebih dahulu.
Dewey menyebutkan bahwa hal yang paling buruk dari metode empiris adalah pengaruhnya terhadap sikap mental manusia. Beberapa bentuk mental negatif yang dapat ditimbulkan oleh metode empiris antara lain: sikap kemalasan dan konservatif yang salah. Sikap mental seperti ini menurutnya, lebih berbahaya daripada sekedar memberi kesimpulan yang salah. Sebagai contoh dikatakan bahwa apabila ada suatu penarikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu menyimpang dari kebiasaan, maka kesimpulan tersebut akan sangat diremehkan. Sebaliknya, apabila ada penegasan yang berhasil, maka akan sangat dibesar-besarkan.
Terhadap empirisme Immanuel Kant juga memberi kritiknya bahwa meskipun empirisme menolak pengetahuan yang berasal dari rasio, tetapi pengalaman dan persepsi yang merupakan dasar kebenaran dalam empirisme tidak dapat memberi suatu pengetahuan yang kebenarannya adalah universal dan bernilai penting.
Kritik lain yang juga diungkapkan oleh Brower dan Heryadi (1986) bahwa tidak mungkin unsur-unsur khusus menghasilkan suatu kebenaran yang bersifat universal. Meskipun diakui bahwa munculnya pengetahuan dan legitimasinya berasal dari pengamatan, tetapi pada kenyataan tidak semua sumber pengetahuan hanya terdapat dalam pengamatan.
V. PENUTUP
Telaah terhadap kritik yang ditujukan kepada empirisme tidak dimaksudkan untuk menimbulkan keraguan tentang peranan empirisme dalam pembentukan pengetahuan melalui metode ilmiah. Kritik kepada empirisme haruslah dipandang sebagai acuan dalam mencari solusi alternatif mengatasi kelemahan-kelemahan dalam empirisme. Penggunaan pancaindera yang memiliki keterbatasan harus dibantu dengan teknologi yang sempurna untuk menyempurnakan pengamatan. Metode-metode eksperimen yang dijalankan harus ditetapkan secara benar sehingga bias karena keterbatasan pengamatan manusia dapat diminimalisasikan.
Pengalaman-pengalaman yang dibangun sebagai dasar kebenaran harus didukung dengan teori-teori yang relevan. Bergantung pada pengalaman pribadi saja bisa menimbulkan subyektivitas yang tinggi. Oleh sebab itu kajian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada sebelumnya harus dilakukan sehingga kebenaran yang ingin didapatkan memiliki sifat obyektivitas yang tinggi. Pengetahuan tidak semata-mata mulai dari pengalaman saja, tetapi ia harus menjelaskan dirinya dengan pengalaman-pengalaman itu.
Dari sudut pandang yang lain, kritik terhadap empirisme perlu juga dipahami sebagai kritik terhadap ilmu pengetahuan. Dengan adanya keterbatasan dalam empirisme sebagai salah satu prosedur dari metode ilmiah, memberi gambaran kepada kita bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya kebenaran yang ada. Tetapi sebagai ilmuwan, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa di luar ilmu pengetahuan masih terdapat kebenaran lain. Dengan demikian, kebenaran ilmu pengetahuan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi didalam membangun keharmonisan dan keseimbangan hidup, kebenaran ilmu pengetahuan perlu berdampingan dengan kebenaran-kebenaran dari pengetahuan lain, seperti seni, etika dan agama. Pengetahuan-pengetahuan lain di luar ilmu pengetahuan ilmiah perlu dipahami pula dengan baik oleh para ilmuwan agar dapat menciptakan atau menghasilkan nuansa yang lebih dinamis pada pengetahuan ilmiah.
Posted by mrstefz94 in ScHooL AreA....
trackback

Banyak sekali manfaat dari pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Beberapa penerapan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi antara lain dalam perusahaan, dunia bisnis, sektor perbankan, pendidikan, dan kesehatan.
A. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perusahaan
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi menyebabkan perubahan bada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprice Resource Planning (ERP). ERP adalah salah satu aplikasi perangkat lunak yang mencakup sistem manajemen dalam perusahaan.
B. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Bisnis Dalam dunia bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.
C. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perbankan
Dalam dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui Internet Banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindahbukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening.
D. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan
Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seirng perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari Makalah Teknologi Informasi dan Komunikasi sering dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih. Kemampuan dan karakteristik internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
E. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan
Sistem berbasis kartu cerdas (smart card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien yang datang ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien. Digunakannya robot untuk membantu proses operasi pembedahan serta penggunaan komputer hasil pencitraan tiga dimensi untuk menunjukkan letak tumor dalam tubuh pasien.
http://media.diknas.go.id/media/document/5512.pdf
1. Terhadap Kehidupan Bermasyarakat
Proses penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan dasar yang muncul dan dikenal sebagai Informatika Masyarakat. Masyarakat informatika melibatkan diri lebih dari sekedar pengadopsian teknologi informasi dan komunikasi di dalamnya, tetapi ikut dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi demi keuntungan masyarakat lokal. Masyarakat informatika tidak hanya menghadapkan teknologi, tetapi juga gagasan sosial yang dikenal sebagai modal sosial. Masyarakat informatika juga memperkenalkan dimensi baru ke dalam konsep pembagian masyarakat berdasarkan modal budaya dan kelas sosial yang menstratifikasi masyarakat.
Michael Gurstein, (Gurstein, 2000), mendeskripsikan masyarakat informasi dengan cara berikut: Masyarakat Informatika adalah aplikasi teknologi informasi dan komunikasi untuk memungkinkan proses masyarakat dan pencapaian tujuan masyarakat yang mencakup pembagian digital di dalam maupun antar masyarakat. Masyarakat informatika muncul sebagai kerangka untuk mendekati Sistem Informasi secara sistematis dari perspektif masyarakat dan sejajar dengan Sistem Informasi Manajemen dalam pengembangan strategi dan teknik untuk manajemen penggunaan dan aplikasi sistem informasi masyarakat.
Masyarakat informatika mengatasi hubungan antara teori akademik dan penelitian, masalah kebijakan dan pragmatis yang timbul dari puluhan ribu “Jaringan Masyarakat”, “Pusat Teknologi Masyarakat”, Telecentre, Pusat Komunikasi Masyarakat, dan Telecottage yang saat ini berada secara global.
Sebagai satu bidang akademik, masyarakat informatika mengambil sumber daya dan partisipan dari serangkaian latar belakang, termasuk Ilmu Komputer, Manajemen, Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Perencanaan, Sosiologi, Pendidikan, Kebijakan Sosial, dan penelitian Pedesaan, Regional, dan Pembangunan.
Sebagai suatu praktik, masyarakat informatika merupakan kepentingan bagi mereka yang perhatian dengan Pengembangan Masyarakat dan Ekonomi Lokal di Negara Berkembang maupun Maju dan memiliki hubungan dekat dengan mereka yang bekerja di bidang-bidang seperti Pembangunan Masyarakat, Pembangunan Ekonomi Masyarakat, Informatika Kesehatan Berbasis Masyarakat, Pendidikan Dewasa dan Lanjutan.
Masyarakat informatika adalah bagian dari struktur masyarakat di dunia yang muncul dan memiliki peran di sejumlah tingkat fundamental dalam masyarakat yang berkembang. Masyarakat informatika dapat dideskripsikan sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk praktik masyarakat, yang didefinisikan oleh Glen (1993) sebagai Penyampaian Layanan Masyarakat, dan Tindakan Masyarakat. Khususnya, Praktik Masyarakat semakin dianggap fundamental untuk masalah-masalah sosial karena masyarakat di suatu tempat menghadapi dunia perdagangan modern yang kurang menjadi subyek negara/ bangsa.
Komunikasi telah memainkan peranan penting dalam mengembangkan dan mempertahankan kesehjateraan masyarakat secara geografis sepanjang sejarah. Informatika Masyarakat adalah sebuah fenomena terkini pada masyarakat jaringan modern, dapat dilacak pada pemrakarsa komunikasi masyarakat akhir 1980 sampai awal 1990.
Sejak permulaan, tujuan utama teknologi masyarakat adalah untuk menggunakan prasarana, aplikasi, dan layanan informasi dan komunikasi untuk memberdayakan dan melestarikan modal sosial masyarakat lokal (jaringan, organisasi, kelompok, aktivitas, dan nilai yang mendasari kehidupan masyarakat).
http://yosephsimon.blog.ugm.ac.id/2009/05/07/perspektif-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-masyarakat/
1.Terhadap Pembelajaran di sekolah
Kita harus tahu bahwa untuk memanfaatkan TIK dalam hal pembelajaran tidak semudah dibayangkan.Perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi demi terwujudnya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran,diantaranya :
-Adanya akses teknologi internet untuk guru maupun siswa,baik di dalam kelas,sekolah,maupun lembaga pendidikan guru,
-Adanya materi yang bermutu bagi guru dan siswa,
-Guru harus harus produktif terhadap perkembangan TIK.
Selain itu,untuk menghindari pemanfaatan teknologi yang kurang bermanfaat apalagi dalam hal negatif oleh siswa karena pembelajaran TIK antar siswa dengan cepat maka mengarahkan pemanfatan TIK dalam pembelajaran menjadi sangat penting sehingga siswa disibukkan dengan eksplorasi subjek positif dalam penggunaan TIK.Bentuk nyatanya dapat berupa penugasan pencarian artikel,sumber bacaan,atau pengiriman tugas(PR) melalui e-mail
Dan juga harus tercipta kemudahan akses internet di lingkungan yang terkontrol seperti di sekolah atau rumah melebihi kemudahan akses di tempat umum seperti warnet agar aktivitas on-line siswa lebih terkontrol.
Beberapa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran diantaranya :
-Presentasi
-Demonstrasi
-Kelas Virtual
Blog sekarang memang menjadi tempat bagi semua orang seperti pelajar untuk munumpahkan semua ilmu dan aktifitas sehari-harinya.Dengan menulis di Blog kita dapat :
-Mengembangakan kreatifitas kalian dalam menulis.Selain itu apabila tulisan kalian bagus maka kita akan mendapatkan komentar sebagai bentuk penghormatan terhadap tulisan kita,
-Mempersiapkan diri kita untuk bersaing di dunia global yang menuntut kita terjun dalam teknologi, nah apabila kita terbiasa menulis di Blog maka kita akan terbiasa menggunakan teknologi dalam menjalani kehidupan.
Dengan e-mail,kita bisa mengirimkan tugas yang diberikan oleh guru tanpa harus bertatap muka langsung.Dan dengan menjelajah internet,kita akan tahu banyak hal yang bisa di dapat melalui internet seperti mencari artikel yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah.Ini semua sangat menunjang sekali terhadap proses belajar di sekolah.

Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi sangat mempengaruhi teknologi komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi seakan-akan tidak dapat dipisahkan, sehingga lahirlah istilah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sangat populer sekarang ini. Perpaduan keduanya semakin berkembang cepat dengan adanya media Internet. Teknologi internet telah merubah cara orang berkomunikasi.
Email, merupakan kunci utama perubahan cara berkomunikasi. Dengan hanya mempunyai satu alamat email, kita dapat mengikuti berbagai model komunikasi yang ada di Internet. Beberapa model komunikasi itu, diantaranya :
  1. Forum
  2. Milis/Group
  3. Situs jejaring sosial
  4. Blog
  5. Situs sharing file
  6. E-learning menggunakan teleconference
Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi informasi dan komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitas.
Beberapa penerapan dari teknologi informasi dan komunikasi antara lain dalam perusahaan, dunia bisnis, sector perbankan, pendidikan, dan kesehatan.
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perusahaan
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan perubahan pada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprise Resource Planning (ERP). ERP adalah salah satu aplikasi perangkat lunak yang mencakup system manajemen dalam perusahaan, cara lama kebanyakan.
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Bisnis
Dalam dunia bisnis teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara ektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perbankan
Dalam dunia perbankan teknologi informasi dan komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui internet banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindahbukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening.
Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pendidikan.
Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari sering dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih. Kemampuan dan karakteristik internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan.
System berbasis kartu cerdas (Smart Card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien yang data ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien. Digunakannya robot untuk membantu proses operasi pembedahan serta penggunaan computer hasil pencitraan tiga dimensi untuk menunjukkan letak tumor dalam tubuh pasien.
Boleh diakui masyarakat masa kini tidak bisa lepas dari internet. Internet bisa menguntungkan namun terkadang bisa juga merugikan. Empat puluh tahun sejak ditemukan internet terus berevolusi.
Selain mendapat keunggulan lebih cepat, lama penyimpanannya dan luas sebarannya tidak dapat dipungkiri juga terdapat kelemahan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, diantaranya lemah dari sisi keamanan, kelemahan terbesar internet saat ini adalah kurang mapannya teknik manajemen jaringan. Itu sebabnya, salah satu lembaga bernama National Science Foundation berambisi dalam membuat perangkat manajemen jaringan terbaru. Dengan perangkat ini system reboot, pengumpulan data dan tugas lainnya bisa dilakukan secara otomatis.
Penutup
Allah swt mengingatkan pada kita agar al-Qur’an mendarah-daging dalam tubuh dan perilaku keseharian kita. Allah berfirman :
بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
Al-Qur’an adalah ayat-ayat penjelas yang terpatri dalam hati para kaum cendekiawan

Jejak mendalami al-Qur’an yang kita tapaki sekarang, hakikatnya adalah bagian dari jejak menuju surga, lantaran banyak fasilitas yang Allah karuniakan kepada ‘shahibul qur’an’. Sebagaimana sabda Nabi :
حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)
Bacalah al-Qur’an karena ia kelak akan datang dengan memberi syafaat di hari kiamat

Akhirnya, semoga jejak langkah kita menuju kebaikan senantiasa mendapat kemudahan dari Allah swt.


Penerapan Manajemen Sebagai Karyawan dan Pengusaha
Menjadi seorang pegawai sekaligus wiraswasta dalam waktu yang bersamaan dirasakan sangat sulit. Mengingat waktu dan tenaga yang kita miliki sangat terbatas. Namun menjadi karyawan sekaligus wiraswasta bukan hanya angan-angan. Semua itu dapat dengan mudah dilakukan apabila kita dapat mengatur sedemikian rupa dengan keterbatasan waktu dan tenaga yang kita mliki.
Sebagai contoh, saya seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan. Jam kerja mulai jam 08.00-16.00 mulai hari Senin s/d Jumat. Di sisi lain saya juga merangkap sebagai pemilik dari sebuah pabrik roti. Dalam hal ini sangat diperlukan manajemen yang baik agar kedua peran yang dijalani dapat berjalan dengan baik pula.
Untuk itu, waktu yang tersisa diluar dari jam kerja di kantor harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengatur kegiatan produksi roti. Seperti manajemen keuangan, dan manajemen produksi. Mengatur bagaimana pemanfaatan modal untuk memperoleh keuntungan dengan tidak mengabaikan kualitas dari produk itu sendiri. Dan juga dalam hal pembagian gaji untuk karyawan pabrik. Mengatur bagaimana proses pembuatan roti yang baik dan steril, serta inovasi-inovasi baru agar roti yang diproduksi tidak kalah dengan pesaing-pesaing lainnya. Sedikitnya dua kali dalam sebulan saya harus turun ke lapangan untuk mengontrol segala kegiatan produksi yang dibantu oleh beberapa orang karyawan. Hubungan baik antara pemilik dan pekerja harus dijalin dengan baik agar proses produksi berjalan dengan lancar. Dengan menyadari sediktnya waktu yang saya miliki, maka sangat diperlukan seorang asistan yang terpercaya untuk mengontrol dan membantu setiap harinya untuk berjalannya pabrik ini.
Setiap usaha yang dijalani pasti memiliki masa pasang-surut. Dua peran yang dijalani tidak mudah dilaksanakan dalam jangka waktu yang lama. Maka kita harus memusatkan konsentrasi kepada salah satu dari kedua peran yang dilakukan. Usaha pabrik roti dirasakan cukup menjanjikan dalam jangka waktu lama kedepan dibandingkan sebagai karyawan yang tidak menutup kemungkinan apabila diPHK suatu saat atau mengalami pensiun bila sudah memasuki usia lanjut.
KESIMPULAN
Dalam menjalani profesi tidaklah mudah untuk me manajemen waktu. Terlebih apabila ktia memiliki dua profesi sekaligus. Sebagai karyawan dan sebagai pengusaha. Dalam hal ini tidak hanya waktu saja yang memerlukan pengaturan yang baik. Akan tetapi manajemen keuangan dan manajemen produksi adalah hal yang penting pula.
Hal yang dapat disimpulkan dari contoh kasus di atas adalah Pemanajemenan waktu, keuangan dan produksi yang tepat dan cermat adalah kunci keberhasilan dan keselarasan didalam menjalani lebih dari dua profesi dalam waktu yang bersamaan.